Your Ad Here

Wednesday, July 8, 2009

KONSEP TASAWUF DALAM ISLAM

A. PENDAHULUAN

Tasawuf merupakan salah satu aspek (esoteris) Islam, sebagai perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan tuhan-Nya. Esensi tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan Rasulullah SAW, namun tasawuf sebagai ilmu keislaman adalah hasil kebudayaan Islam sebagaimana ilmu-ilmu keislaman lainnya seperti fiqih dan ilmu tauhid. Pada masa Rasulullah belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada waktu itu hanyalah sebutan sahabat nabi. Dan sebagai salah satu ilmu esoterik islam memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Terlebih pada saat ini dimana masyarakat seakan dikatakan mengalami kekeringan spiritual sehingga tasawuf dianggaap sebagai satu obat ampuh untuk mengobati kehampaan tersebut.

Dalam islam tasawuf digambarkan sebagai salah satu aspek dari segi tiga yang sangat berhubungan erat. Segi tiga itu yaitu pertama: Islam, sebagai aspek ‘amali yang meliputi ritual-ritual ibadah dan muamalah yang pada perkembangannya lebih akrab disebut dengan syari’ah. Kedua: Iman, sebagai aspek i’tiqodi yang termasuk didalamnya iman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, utusan-utusanNya, hari ahir dan takdirNya. Ketiga: Ihsan, sebagai aspek al-ruhi yaitu aspek kejiwaan. Di dalam aspek kejiwaan inilah terkandung banyak sekali maqam atau sifat-sifat yang nantinya akan disebut dengan istilah tasawuf atau hakikat

Secara singkat dapat dikatakan bahwa prinsip dasar syariat Islam adalah beramal untuk dunia (‘amal li ad-dunyâ) dan beramal untuk akhirat . Kedua prinsip ini terekam dalam firman Allah, yang berbunyi :

“Dan carilah pada apa yang telah dinugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu meluapakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaiamanaAllah telah bebuta biak kepadamu” [QS. Al-Qashashash: 77].

Ada pendapat yang menyatakan bahwa istilah tasawuf diadopsi dari kata shafâ` (bersih) dan pelaku tasawuf disebut shufî artinya ialah orang hatinya bersih dari kotoran atau penyakit hati. Ada juga pendapat lain yang menyatakan bahwa tasawuf berasal dari kata shuffah. Yaitu, sebuah serambi sederhana yang terbuat dari tanah dengan bangunan sedikit lebih tinggi daripada tanah. Serambi itu terletak di sebelah timur masjid Nabi Muhammad di Madinah.

Perbedaan tantang akar kata tasawuf tidak mempengaruhi esensi dari ajaran tasawuf. Jadi, perbedaan ini hanya menyangkut wilayah bahasa saja. Dan apapun akar katanya, tetap saja tasawuf tetap menunjuk pada makna orang-oang yang tertarik pada pengetahuan esetoris, yang menyelami dan menukik jauh ke dalam inti agama, yang berupaya mencari jalan dan praktik-paktik amalan yang dapat menghantarkannya pada kesadaran tercerahkan dan pencerahan hati.

B. ZUHUD

Secara etimologis, zuhud berarti raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu, artinya tidak tertarik terhadap sesuatu dan meninggalkannya. Zahada fi al-dunya, berarti mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk ibadah.

Berbicara tentang arti zuhud secara terminologis tidak bisa dilepaskan dari dua hal. Pertama, zuhud sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tasawuf. Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes. Apabila tasawuf diartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan sebagai perwujudan ihsan, maka zuhud merupakan suatu station (maqam) menuju tercapainya “perjumpaan” atau ma’rifat kepada-Nya. Dalam posisi ini, zuhud berarti menghindar dari berkehendak terhadap hal – hal yang bersifat duniawi atau ma siwa Allah ( sesuatu selain Allah ). Berkaitan dengan ini al-Hakim Hasan menjelaskan bahwa zuhud adalah “berpaling dari dunia dan menghadapkan diri untuk beribadah melatih dan mendidik jiwa, dan memerangi kesenangannya dengan semedi (khalwat), berkelana, puasa, mengurangi makan dan memperbanyak dzikir”. Zuhud disini berupaya menjauhkan diri dari kelezatan dunia dan mengingkari kelezatan itu meskipun halal, dengan jalan berpuasa yang kadang – kadang pelaksanaannya melebihi apa yang ditentukan oleh agama. Semuanya itu dimaksudkan demi meraih keuntungan akhirat dan tercapainya tujuan tasawuf, yakni ridla, bertemu dan ma’rifat Allah swt.

Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam, dan gerakan protes yaitu sikap hidup yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim dalam menatap dunia fana ini. Dunia dipandang sebagai sarana ibadah dan untuk meraih keridlaan Allah swt., bukan tujuan tujuan hidup, dan di sadari bahwa mencintai dunia akan membawa sifat-sifat mazmumah (tercela). Keadaan seperti ini telah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya.

Zuhud menurut Nabi serta para sahabatnya, tidak berarti berpaling secara penuh dari hal-hal duniawi. Tetapi berarti sikap moderat atau jalan tengah dalam menghadapi segala sesuatu, sebagaimana diisyaratkan firman – firman Allah yang berikut : ”Dan begitulah Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang adil serta pilihan”. “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dari (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. Sementara dalam hadits disabdakan : “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari”.

Zuhud merupakan salah satu maqam yang sangat penting dalam tasawuf. Hal ini dapat dilihat dari pendapat ulama tasawuf yang senantiasa mencantumkan zuhud dalam pembahasan tentang maqamat, meskipun dengan sistematika yang berbeda – beda. Al-Ghazali menempatkan zuhud dalam sistematika : al-taubah, al-sabr, al-faqr, al-zuhud, al-tawakkul, al-mahabbah, al-ma’rifah dan al-ridla. Al-Tusi menempatkan zuhud dalam sistematika : al-taubah, al-wara’, al-zuhd, al-faqr, al-shabr, al-ridla, al-tawakkul, dan al-ma’rifah. Sedangkan al-Qusyairi menempatkan zuhud dalam urutan maqam : al-taubah, al-wara’, al-zuhud, al-tawakkul dan al-ridla.

Menurut hemat penulis, zuhud itu meskipun ada kesamaan antara praktek zuhud dengan berbagai ajaran filsafat dan agama sebelum Islam, namun ada atau tidaknya ajaran filsafat maupun agama itu, zuhud tetap ada dalam Islam. Banyak dijumpai ayat al-Qur’an maupun hadits yang bernada merendahkan nilai dunia, sebaliknya banyak dijumpai nash agama yang memberi motivasi beramal demi memperoleh pahala akhirat dan terselamatkan dari siksa api neraka sesuai dengan firman Allah yang berbunyi :

Artinya : “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien[1458] dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Tuhan mereka. bagi mereka pahala dan cahaya mereka. dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka Itulah penghuni-penghuni neraka”. (QS.Al-hadid :19)

C. PERALIHAN DARI ZUHUD KE TASAWUF

Benih – benih tasawuf sudah ada sejak dalam kehidupan Nabi SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan pribadi Nabi Muhammad SAW. Sebelum diangkat menjadi Rasul, berhari-hari ia berkhalwat di gua Hira terutama pada bulan Ramadhan. Disana Nabi banyak berdzikir bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Pengasingan diri Nabi di gua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalwat. Sumber lain yang diacu oleh para sufi adalah kehidupan para sahabat Nabi yang berkaitan dengan keteduhan iman, ketaqwaan, kezuhudan dan budi pekerti luhur. Oleh sebab itu setiap orang yang meneliti kehidupan kerohanian dalam Islam tidak dapat mengabaikan kehidupan kerohanian para sahabat yang menumbuhkan kehidupan sufi di abad-abad sesudahnya.

Setidaknya ada enam prinsip dasar dalam tasawuf. Pertama, takwa kepada Allah dalam segala kondisi , bersikap absolut dan selau berada di jalan kebenaran. Kedua, mengikuti sunnah nabi, baik ucapan dan tindakannya, dan berakhlak baik. Ketiga, sabar dan tawakkal. Keempat, ridha dengan apa yang diberikan Allah, baik sedikit maupun banyak. Kelima, selalu kembali pada Allah baik dalam keadaan senang maupun susah. Keenam, berpijak pada Al-Quran, sunnah, dan pengetahuan-pengetahuan yang ada pada kalangan khawwâs (para wali).

Keenam prinsip ini bisa diringkas menjadi dua prinsip. Yaitu prinsip mulâzamah dan mukhâlafah. Artinya selalu ingat pada Allah dan mengenyampingkan hal-hal yang bisa membuat kita lalai mengingat-Nya

Zuhud yang tersebar luas pada abad –abad pertama dan kedua Hijriyah terdiri atas berbagai aliran yaitu :

* Aliran Madinah

Sejak masa yang dini,di Madinah telah muncul para zahid. Mereka kuat berpegang teguh kepada al-Qur’an dan al-sunnah, dan mereka menetapkan Rasulullah sebagai panutan kezuhudannya. Diantara mereka dari kalangan sahabat adalah Abu Ubaidah al-jarrah (w.18 H.), Abu Dzar al-Ghiffari (w. 22H.), Salman al-Farisi (w. 32 H.), Abdullah ibn Mas’ud (w. 33 H.), Hudzaifah ibn Yaman (w. 36 H.). Sementara itu dari kalangan tabi’in diantaranya adalah Sa’id ibn al-Musayyad (w. 91 H.) dan Salim ibn Abdullah (w. 106 H.). Aliran Madinah ini lebih cenderung pada pemikiran angkatan pertama kaum muslimin (salaf), dan berpegang teguh pada zuhud serta kerendah hatian Nabi. Zuhud aliran ini tetap bercorak murni Islam dan konsisten pada ajaran-ajaran Islam.

* Aliran Bashrah

Pada abad pertama dan kedua Hijriyah terdapat dua aliran zuhud yang menonjol. Salah satunya di Bashrah dan yang lainnya di Kufah. Mereka terkenal dengan sikapnya yang kritis dan tidak percaya kecuali pada hal-hal yang riil. Merekapun terkenal menyukai hal-hal logis dalam nahwu, hal-hal nyata dalam puisi dan kritis dalam hal hadits. Mereka adalah penganut aliran ahlus sunnah, tapi cenderung pada aliran mu’tazilah dan qadariyah. Tokoh mereka dalam zuhud adalah Hasan al-Bashri, Malik ibn Dinar, Fadhl al-Raqqasyi,Rabbah ibn ‘Amru al-qisyi, Shalih al-Murni atau Abdul Wahid ibn Zaid, seorang pendiri kelompok asketis di Abadan.

Corak yang menonjol dari para zahid Bashrah ialah zuhud dan rasa takut yang berlebih-lebihan. Dalam hal ini Ibn Taimiyah berkata : “Para sufi pertama-tama muncul dari Bashrah.Yang pertama mendirikan khanaqah para sufi ialah sebagian teman Abdul Wahid ibn Zaid, salah seorang teman Hasan al-Bashri. Para sufi di Bashrah terkenal berlebih-lebihan dalam hal zuhud, ibadah, rasa takut mereka dan lain-lainnya.

* Aliran Kufah

Aliran Kufah berasal dariYaman.Aliran ini bercorak idealistis, menyukai hal- hal aneh dalam nahwu, hal-hal image dalam puisi, dan harfiah dalam hal hadits. Dalam aqidah mereka cenderung pada aliran Syi’ah dan Rajaiyyah.dan ini tidak aneh, sebab aliran Syi’ah pertama kali muncul di Kufah.

Para tokoh zahid Kufah pada abad pertama Hijriyah ialah ar-Rabi’ ibn Khatsim (w. 67 H.) pada masa pemerintahan Mu’awiyah, Sa’id ibn Jubair (w. 95 H.), Thawus ibn Kisan (w. 106 H.), Sufyan al-Tsauri (w. 161 H.)

* Aliran Mesir

Pada abad – abad pertama dan kedua Hijriyah terdapat suatu aliran zuhud lain, yang dilupakan para orientalis, dan aliran ini tampaknya bercorak salafi seperti halnya aliran Madinah. Aliran tersebut adalah aliran Mesir. Sebagaimana diketahui, sejak penaklukan Islam terhadap Mesir, sejumlah para sahabat telah memasuki kawasan itu,misalnya Amru ibn al-Ash, Abdullah ibn Amru ibn al-Ash yang terkenal kezuhudannya, al-Zubair bin Awwam dan Miqdad ibn al-Aswad.

Tokoh – tokoh zahid Mesir pada abad pertama Hijriyah diantaranya adalah Salim ibn ’Atar al-Tajibi. Al-Kindi dalam karyanya, al-wulan wa al-Qydhah meriwayatkan Salim ibn ‘Atar al-Tajibi sebagai orang yang terkenal tekun beribadah dan membaca al-Qur’an serta shalat malam, sebagaimana pribadi – pribadi yang disebut dalam firmanAllah :”Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam”. (QS.al-Dzariyyat, 51:17). Dia pernah menjabat sebagai hakim diMesir,dan meninggal di Dimyath tahun 75 H. Tokoh lainnya adalah Abdurrahman ibn Hujairah (w. 83 H.) menjabat sebagai hakim agung Mesir tahun 69 H.

Sementara tokoh zahid yang paling menonjol pada abad II Hijriyyah adalah al-Laits ibn Sa’ad (w. 175 H.).Kezuhudan dan kehidupannya yang sederhana sangat terkenal. Menurut ibn Khallikan, dia seorang zahid yang hartawan dan dermawan.

Suatu kenyataan sejarah bahwa kelahiran tasawuf bermula dari gerakan zuhud dalam Islam.Istilah tasawuf baru muncul pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh Abu Hasyim al-Kufy (w.250 H.) dengan meletakkan al-sufy di belakang namanya. Pada masa ini para sufi telah ramai membicarakan konsep tasawuf yang sebelumnya tidak dikenal.Jika pada akhir abad II ajaran sufi berupa kezuhudan, maka pada abad ketiga ini orang sudah ramai membicarakan tentang lenyap dalam kecintaan (fana fi mahbub), bersatu dalam kecintaan (ittihad fi mahbub), bertemu dengan Tuhan (liqa’) dan menjadi satu dengan Tuhan (‘ain al jama’) [21]. Sejak itulah muncul karya –karya tentang tasawuf oleh para sufi pada masa itu seperti al-muhasibi (w. 243 H.), al-Hakim al-Tirmidzi (w. 285 H.), dan al-Junaidi (w. 297 H.). Oleh karena itu abad II Hijriyyah dapat dikatakan sebagai abad mula tersusunnya ilmu tasawuf.

D. Menabur Filsafat dalam Tasawuf Islam

Perjalanan tasawuf dalam sejarah Islam klasik pada akhirnya memang ditakdirkan harus bersinggungan dengan filsafat Yunani yang tengah menghegemoni. Tasawuf mulai tercemar nilai-nilai filsafat sebagaimana tercium dari kerancuan konsep inkarnasi al-Hallaj. Fenomena ini, bagi penulis, karena melihat bahwa persinggungan di antara keduanya menjadikan kebudayaan Islam perlahan-lahan menyesuaikan ritme yang sedang dimainkan kebudayaan Yunani yang terwakili oleh filsafatnya. Betatapun, kebudayaan Islam merasa inferior ketika berhadapan dengan superioritas filasafat Yunani. Dunia Islam harus melahirkan disiplin ilmu kalam demi mereduksi serangan gencar filsafat yang diletupkan oleh kaum Mu`tazilah.

Melihat realitas yang mulai lari dari konsep awal tasawuf yang meyakini bahwa al-insan al-kamil adalah Nabi Muhammad SAW, bukan mengadopsi konsepsi-konsepsi lain di luar Islam, maka banyak tokoh-tokoh teosof muslim yang mencoba mengembalikan tasawuf agar tetap konsisten dengan blue print-nya.

Mayoritas ulama tasawuf sepakat bahwa kualitas hasil akhir apapun akan bergerak sebanding dengan kualitas permulaannya sebagaimana bangunan pun tidak akan mampu berdiri tanpa adanya landasan-landasan yang menyangganya. Dan kualitas permulaan suatu hal sesungguhnya terkait erat dengan ketulusan motivasi dan konsistensi dalam menerapkan nilai-nilai profetik.

Dalam benak penulis, inilah wujud dari aliran tasawuf yang betul-betul moderat karena dengan tangan terbuka berani mengadapsi aliran-aliran filsafat yang tengah meruyak dalam masyarakat. Ada filsafat India, Yunani dan Kristen yang kesemuanya dilarutkan demi mencari sarana yang ideal guna mencapai kebenaran.

Faktor-faktor yang banyak berperan membantu eksistensi tasawuf aliran ini adalah konsep emanasi sebagai representasi dari filsafat Neo-Platonisme, filsafat Hermeticism, Rasa'il Ikhwan al-Shafa, Filsafat Timur (Persia dan India) dan Syi`ah Isma'iliah Bathiniah.

E. Spiritualisme, Tasawuf dan Dunia Modern

Islam adalah agama universal. Islam mempunyai nilai-nilai transendental-universal yang merasuk dalam seluruh aspek kemanusiaan. Nilai eksoterisnya terlihat dalam syari’at Islam, dan spiritual sebagai nilai isoterisnya. Kedua hal ini harus selalu berjalan seiring, ibarat manusia, ia dapat dikatakan hidup bila jasad dan ruh menjadi satu yang integral dan tak terpisah.

Dalam perjalanan sejarah, manusia sering meloncat dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain_terlalu bersifat duniawi atau terlalu bersifat ukhrawi_. Keduanya bukanlah pilihan yang tepat, karena keduanya berimplikasi negatif, pemiskinan salah satu dari dua aspek tersebut, yang disebabkan dari pembagian yang tidak proporsional antara keduanya.

Pada zaman yang sering disebut modern ini, obsesi keduniaan manusia nampak lebih dominan mewarnai ketimbang spiritual. Kemajuan teknologi, science dan segala hal yang bersifat duniawi, jarang disertai dengan nilai spiritual. Jiwa pun menjadi kering dan membutuhkan siraman ruhani yang dapat menyejukkannya. Hal ini, pada kelanjutannya membawa angin segar bagi perkembangan praktek-praktek spiritual, yang dalam Islam kita sebut dengan tasawuf.

Abad 21, oleh sebagian pemikir diidentifikasi sebagai abad spiritualisme. Hal ini tidaklah berlebihan jika melihat maraknya kecenderungan masyarakat pada aspek spiritualitas pada dasawarsa terakhir ini. Kehidupan modern yang bercorak diterministik-materialistik, positivistik-empirik, sering dikritik oleh kaum posmodernis sebagai akar konflik kemanusiaan. Namun, kritik hanyalah sebuah kritik, karena solusi yang memuaskan pun ternyata belum dapat diajukan oleh mereka. Hal ini terbukti, bahwa solusi-solusi yang ditawarkan mereka, pun sering dinilai sangat relatif dan tanpa arah, bahkan mengarah pada solipsisme. Dari keadaan yang penuh kegamangan dan kekeringan jiwa inilah, spiritualisme adalah solusi-alternatif yang diharapkan.

Maraknya spiritualisme dan mistisisme di Barat memang tidak luput dari kritik tajam kaum positivis-empiris, yang dengan berbagai argumennya berusaha meyakinkan bahwa spiritualisme adalah tidak objektif, tidak real, fantastik atau halusinasi belaka. Fenomena ini, memang bukan kabar yang menggembirakan bagi kaum sekular tersebut. Karena itu, propaganda mereka untuk menghentikan bentuk-bentuk spiritualisme memudar oleh waktu.

F. Polemik antara Tasawuf dan Syari’at

Secara sosiologis, fenomena revival of spiritualism, dapat dilacak asal-usulnya dari berbagai peristiwa politik dan kemanusiaan. Fenomena ini tidak berdiri sendiri dan bukan fenomena tunggal yang tanpa preseden. Dalam Islam, bentuk spiritulisme_yang kemudian disebut dengan tasawuf, adalah reaksi yang dipicu oleh keadaan di mana sebagian kaum Muslimin sudah tenggelam dalam kemewahan hidup materialistis. Sebagian dari penguasa dan orang-orang kaya mulai terjangkiti penyakit hedonistis.

Saat itu, harta kekayaan umat Islam melimpah seiring dengan perluasan wilayah yang semakin ekspansif. Serdadu muslim selain membawa pulang ghanîmah (harta rampasan) juga gaya hidup baru. Tak heran jika kemudian para penguasa menjiplak gaya hidup kaisar yang berkuasa di negara-negara tiranis. Mereka sibuk menumpuk kekayaannya dan mengabaikan akhirat.

Dalam perkembangannya, tasawuf sering menjadi obyek kritikan keras baik dari muslim atau non-muslim. Kritik ini diargumentasikan dari sebagian para pengikut tasawuf yang terlalu jauh tenggelam dalam dunia tasawuf sehingga terkesan ‘lari’ dari kehidupan dunia. Bersifat a-sosial; bersifat terlalu spiritualistik, dengan melupakan segi-segi kesalehan sosial atau substansial. Tasawuf juga sering disejajarkan dengan spiritualisme isolatif; spiritualisme orang-orang yang lemah dan egois, yang tidak tahan menghadapi kejahatan dan bahaya, kemudian lari ke `uzlah tanpa mengindahkan aspek-aspek sosial.

Potensi konflik lain, dipicu dari gesekan antara kaum sufi dan ahli syari’at. Sebagian dari kalangan ahli syari’at, menganggap banyak di antara kaum sufi yang menyimpang dari syari’at dan mempraktekkan teori di luar Islam. Terlebih lagi, saat berkaitan dengan masalah sathahat orang-orang sufi; atau perasaan yang halus dijadikan sumber hukum mereka.

Fenomena ini menjadi problematika yang krusial dalam kalangan syari’at dan sufi. Keadaan iluminasi (kasyf) memang tidak dapat dipahami selain kaum sufi. Iluminasi adalah real yang tidak akan dipahami selain pelaku itu sendiri. Tidak oleh ahli syari’at, bahkan dari kaum sufi yang lain. Sebab itu al-Ghazali dalam kitabnya Al-Munqidz min al-dlalâl kemudian membagi tasawuf menjadi dua cabang, yaitu: pertama, tasawuf sebagai ilmu praktis (mu`amalah) seperti yang ditulisnya dalam Ihyâ' Ulâm al-Dîn dan ini sepenuhnya merupakan rantai panjang penjernihan jiwa (tazkiah al-nafs). Kedua, tasawuf sebagai ilmu mukasyafah yang menurutnya tidak boleh ditulis-ceritakan. Al-Ghazali menolak keras pengungkapan pengalaman sang sufi ketika mengalami iluminasi (kasyf), karena manusia miskin bahasa dalam menggambarkannya, sehingga segala upaya untuk menjelaskannya akan sia-sia, sebab setiap kata yang dipakai selalu mengandung salah paham yang sulit dihindari.

Kekhawatiran lain dari para ulama’ terhadap ajaran tasawuf adalah tasawuf akan menjadi pelarian orang-orang yang tidak paham syari’at untuk langsung masuk pada inti agama. Lebih lagi, apabila tasawuf sebagai kedok orang-orang yang malas dalam syari’at.

Kekhawatiran di atas memang beralasan, tapi lebih tepatnya kalau dialamatkan pada kaum spiritual-mistik di Barat yang ingin memotong jalur syari'at, lalu meloncat kepada spiritual. Tapi, kalau tasawuf dengan syari'at punya akar yang sangat dalam, karena syari'at punya akar primordial yang jauh, yang diyakini dalam iman. Tasawuf adalah dimensi esoteris dalam Islam, tasawuf dan syari’at sama-sama mempunyai landasan dari Alquran dan Hadist. Bila dianalogikan dengan fisik hati, tasawuf tersembunyi dari external view tapi menjadi sumber dari hidup.

Namun begitu, sering dari perkataan-perkataan sufi, memang sering terkesan merusak atau menafikan syari’at. Hal tersebut harus dipahami dengan melihat pada latarbelakang dan kondisi yang mempengaruhi, juga pada audiens yang menjadi obyek perkataan tersebut. Misalnya, Hafidz yang menulis, bahwa seseorang harus membuang sajadahnya, atau Ibnu Arabi yang menulis bahwa hatinya adalah kuil bagi penyembah berhala. Kalimat seperti ini bukanlah berarti menafikan hukum Tuhan, tapi sebenarnya mereka menunjukkan pada audiens, kepada ‘Siapa’ yang darinya syari’at diambil dan mengajak manusia menguatkan bentuk teks dengan penetrasi ke dalam intisari dari syari’at.4 Sehingga jelas, bahwa tasawuf vis-a-vis syari’at adalah nonsens. Tapi keduanya adalah proses gradual menuju Tuhan.

G. Tasawuf dan Mistisisme

Salah satu bentuk dari kritikan keras yang dilontarkan para kontra-tasawuf adalah ketidakobyektifisan tasawuf. Tasawuf di mata mereka adalah sebuah realitas _kalau bisa dikatakan realitas_ yang tidak dapat dipisahkan dari mistisisme dan subyektifititas, tidak dapat diuji secara ilmiah dalam artian secara empiris.

Kritikan semacam ini, secara umum banyak dilontarkan oleh kaum sekuler yang menolak metafisika. Padahal dalam Islam unsur metafisika merupakan suatu yang absolut. Pengingkaran terhadap metafisika berarti pengingkaran terhadap Allah Swt., malaikat, hari akhir dan al-qadla dan al-qadar.

Dengan berlandaskan pandangan dunia yang dibangun di atas premis positivisme-empirisme ini, akan membawa implikasi pada penolakan realita yang ada di luar jangkauan indera dan rasio. Pendeknya, realita metafisika dianggap sebagai realita semu. Metafisika dilihat sebagai hasil evolusi dari realita materi. Paradigma ini tentu saja berbeda dari pandangan orang yang beriman yang berkeyakinan bahwa realita materi yang kasat mata ini adalah turunan dari realita yang lebih tinggi. Maka dengan argumen inilah, mereka melupakan dan mengabaikan segmen penting yang merupakan unsur esoteris dalam diri manusia; unsur spiritualitas. Lucunya, pada masa seperti ini kajian-kajian inteligensi pada aspek-aspek kejiwaan yang pada waktu-waktu sebelumnya dianggap sebagai tidak rasional, justru menjadi kecenderungan umum di dasawarsa-dasawarsa peralihan milenium ini. Misalnya, Daniel Goleman mengajukan konsep inteligensi emosional. Dan kini, Danah Zohar mengajukan konsep inteligensi spiritual yang dianggap sebagai bentuk inteligensi tertinggi yang memadukan kedua bentuk inteligensi terdahulu yaitu inteligensi intelektual dan inteligensi emosional.

Penolakan kaum positivis-empiris terhadap tasawuf dan bentuk spiritualitas lainnya, juga. sering dilandaskan dari ketidakobjektivisannya. Tasawuf dinilai terlalu personal dan tidak mungkin ditransferkan atau diekspresikan pada individu lain. Lebih ekstrem lagi, tasawuf dicurigainya tidak real, fantastik atau halusinasi belaka.

H. Paradigma Tasawuf sebagai Spirit Peradaban

Imam Al-Ghazali dalam bukunya yang berjudul Minhaj al-‘Abidin, mengatakan, bahwa Ilmu yang fardlu ‘ain dituntut oleh seorang muslim adalah mencakup tiga hal, pertama, Ilmu Tauhid. Kedua, Ilmu Syari’at. Ketiga Ilmu Sirr (Ilmu tentang hati), dan tidaklah ilmu-ilmu itu semua dituntut untuk tujuan berargumentasi atau memberikan keyakinan kepada orang lain baik yang beragama Islam maupun bukan. Tetapi ilmu tersebut fardlu ain untuk dituntut, yang berhubungan dengan untuk perubahan diri. Ilmu tentang hati inilah yang banyak dibahas oleh tasawuf.

Tasawuf adalah perjuangan penyucian diri dengan membebaskan diri dari dominasi kenikmatan jasmani untuk meraih kebahagiaan hidup yang otentik. Dari sisi psikologis dan filosofis intinya berusaha menghampiri Yang Maha suci untuk meraih kesucian dan kemuliaan hidup. Dasar filosofis tasawuf adalah kalimat syahadat “lâ ilâha illa Allâh”. Hanya dia yang absolut, sedang yang lain nisbi. Relasi yang Yang Absolut dengan yang relatif ini digambarkan oleh tiga khulafa’ al-Rasyidin sebagai berikut. Abu Bakar berkata “saya sama sekali tidak melihat sesuatu sebelum saya melihat Allah.” Umar ibn Al-Khattab berkata ”saya sama sekali tidak melihat sesuatu tanpa saya melihat Allah pada saat itu.” Utsman Ibn al-‘Affan berkata “saya sama sekali tidak melihat sesuatu tanpa saya melihat Allah saya melihat Allah setelahnya.” Maka Allah an sich yang eksis, sedang yang lainnya hanyalah sebagai ayat dari ayat-ayatnya. Dia awal segala sesuatu dan akhir darinya.

Berpegang pada syari’at bukan berarti mengambil jarak dengan tasawuf. Sebaliknya dengan tasawuf dapat menghidupkan syari’at dengan makna yang dalam. Maka tasawuf bukan berarti perendahan terhadap syari’at, tapi kesadaran dari dalam. Kebebasan terhadap al-Sunnah tidak berarti penolakan terhadap syari’at, tetapi sebagai pemahaman maknanya yang hidup. Karena kebebasan tidak hanya berarti kemampuan untuk berbicara tapi tapi juga kemampuan untuk mencipta.

Dalam tasawuf dapat diharapkan terbentuknya moralitas keagamaan tinggi. Dalam konsep tasawuf, doktrin yang paling menonjol tentang relasi Tuhan dan makhluk adalah konsep Love of God. Yang salah satu pionernya adalah Rabi’ah al‘Adawiah (801 M.). Dari salah satu nasyidnya yang menggambarkan dalamnya kecintaan kepada Pencipta berbunyi:

Kucintai Engkau dengan dua cinta,
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku,
Membuat aku lupa yang lain dan senantiasa menyebut nama-Mu
Cinta kepada diri-Mu
Membuat aku melihat Engkau karena Engkau bukakan hijab,
Tiada puji bagiku untuk ini dan itu,
Bagi-Mu-lah puji dan untuk itu semua.
Begitu Kecintaannya kepada Tuhan

I. PENUTUP

Pasang surut kajian tasawuf adalah suatu realitas yang mengiringi suatu perubahan. Di mata sebagian masyarakat sekular atau masyarakat yang telah mapan, tasawuf adalah suatu kebutuhan yang susah dihindari. Pada masyarakat yang plural dan terlalu mengedepankankan formalitas agama, tasawuf adalah penyeimbang dalam membentuk sikap beragama yang inklusif dan kosmopolit.

Kebutuhan spiritual adalah suatu keniscayaan. Eksperimen sejarah Barat mungkin menjadikan mereka terhadap alergi agama, terlebih lagi agama Islam. Pencarian bentuk spiritual mungkin merupakan hal yang menyulitkan, dan harus melalui trial and error. Tapi, bagi kaum muslim, tasawuf adalah warisan Islam yang tidak ternilai harganya.

Tasawuf tidak berarti melarikan diri dari dunia. Pembagian yang proporsional antara dunia dan akherat, jasad dan ruh adalah suatu yang ideal. Dalam tataran praktisnya, bagaimanapun juga kita harus melihat realitas masyarakat saat ini. Sudah seimbangkah aspek eksoteris dan esoteris agama mereka? Jawabannya tidaklah harus sama, maka mari kita bertindak lebih bijaksana.

0 comments:

Comments

  © Islamic Ways Psi by Journey To Heaven 2008

Back to TOP