Your Ad Here

Tuesday, August 11, 2009

Sejarah Pemeliharaan Al-Qur’an ( Jam’ul-Qur’an )

Sejarah Pemeliharaan Al-Qur’an ( Jam’ul-Qur’an )

Pengertian Jam’ul Qur’an

Pada Masa Rasulullah

Pada Masa Abu Bakar As-Siddiq

Kenapa Al-Qur’an Tidak dibukukan dalam satu Mushhaf

Pada Masa Ustman Bin Affan

Tertib Ayat dan Surat

Pengertian Jam’ul Qur’an

Yang dimaksudkan dengan pengertian jam’ul Qur’an ( pengumpulan Al-Qur’an ) oleh para ulama adalah salah satu dari dua pengertian berikut ini:

Pertama : Pengumpulan dalam arti hifdzuhu ( menghafalnya dalam hati ). Inilah makna yang dimaksudkan dalam firman Allah kepada Nabi. Nabi senantiasa mengerakan-gerakan kedua bibir dan lidahnya untuk membaca Qur’an ketika turun kepadanya sebelum Jibril selesai membacakannya, karena ingin menghafalkannya.

لاَتُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ * إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ * فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ * ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ * - القيامة : 16-19 -

“ Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Qur’an karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (didadahmu) dan membuatmu pandai, membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka ikutilah bacaabnnya itu. Kemudian atas tanggungan kamilah penjelasannya (Q.S : Qiyamah : 16-19)

Kedua : Pengumpulan dalam arti kitabatuhu kullihi (Penulisan Qur’an semuanya) baik dengan memisah-misahkan ayat-ayatnya dan surat-suratnya, atau mentertibkan ayat-ayat semata dan setiap surat ditulis dalam satu lembaran secara terpisah, ataupun menertibkan ayat-ayat dan surat-suratnya dalam lembaran-lembaran yang terkumpul yang menghimpun semua surat, sebagiannya ditulis sesudah bagian yang lain.

Pada Masa Rasulullah

Pengumpulan Al-Qur’an pada masa nabi dapat dibagi pada dua katagori :

Pertama : Pengumpulan dalam dada berupa penghafalan dan penghayatan/ ekpresi.

Al-Qur’an ditunkan kepada Rasulullah SAW, dimana beliau dikenal seorang yang ummi ( tidak dapat membaca dan menulis ), oleh karena beliau seorang yang menyukai wahyu, ia senantiasa menunggu turunnya wahyu dengan rasa rindu, lalu setiap yang turun lalu dihafal dan dipahaminya, persis seperti apa yang dijanjikan Allah SWT : sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya ( di dadahmu ), dan ( membuatmu pandai ), membacanya “. ( Al-qiyamah : 17 ).

Oleh karena itu beliau adalah orang yang hafal pertama dan merupakan contoh yang paling baik bagi para shahabat dan pengikutnya. Al-Qur’an diturunkan dalam proses selama dua puluh tahun kurang lebih, yang terkadang turunnya itu hanya satu ayat atau lebih bahkan sampai sepuluh ayat, atau tidak turun sama sekali. Dan setiap kali sebuah ayat turun, dihafal dalam dada dan ditempatkan dalam hati, sebab bangsa Arab secara kodrati memiliki kemampuan menghafal yang kuat. Hal itu karena pada umumnya mereka buta huruf, sehingga dalam penulisan berita-berita, syair-syair dan silsilah, mereka lakukan dengan menulis di dalam hati mereka.

Dalam kitab Shahihnya, Bukhari telah mengemukakan tentang adanya tujuh hafidz, melalui tiga riwayat. Mereka adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qal bekas seorang budak, Abu Huzaifah, muaz bin Jabal, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Sabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda’.

Kedua : Pengumpulan berupa catatan, penulisan dalam kitab maupun berupa ukiran.

Rasulullah telah mengangkat para penulis wahyu Qur’an dari shahabat-shahabat terkemuka, seperti Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah, Ubai bin Ka’b dan Zaid bin Abi Thalib. Bila ayat turun, ia memerintahkan mereka menuliskan dan menunjukan tempat ayat tersebut dalam surat sehingga penulisan pada lembaran itu membantu menghafal di dalam hati. Dan tampa diperintahkan disamping itu mereka menulis ayat-ayat itu pada pelepah daun kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang-belulang binatang.[i]


Pada Masa Abu Bakar As-siddiq

Rasulullah berpulang ke Rahmatullah setelah beliau menyampaikan risalah dan amanah, mengajak umatnya kejalan yang lurus. Setelah belai wafat kekuasaan dipegang oleh Abu Bakar As-Siddiq ra. Pada masa pemerintahannya ia banyak malapetaka, berbagaimacam kesulitan dan problem yang rumit, diantaranya memerangagi orang-orang yang murtad, yang ada dikalangan orang islam itu sendiri, memerangi pengikut Musailamah Al-Kadzdzab

Peperangan Yamamah adalah suatu peperangan yang amat dahsyat. Banyak kalangan shahabat yang hafal Al-Qur’an dan ahli baca Al-Qur’an yang syahid yang jumlahnya kurang dari 70 orang huffadz ternama. Oleh karena Kaum Muslimin menjadi bingung dan khawatir. Umar bin Khattab merasa prihatin lalu beliau menemui Abu Bakar yang dalam keadaan sedih dan sakit. Umar mengajajukan usul supaya mengumpulkan Al-Qur’an karena khawatir lenyap dengan banyaknya huffadz yang gugur. Abu Bakar pertama kali merasa ragu, setelah mendengar penjelasan Umar, dan Allah melapangkan dada Abu Bakar untuk melaksanakan tugas yang mulia tersebut. Ia mengutus Zaid bin Tsabit dan mengajukan persoalan, serta menyuruhnya agar segera menangani dan mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu Mushhaf. Mula-mula pertama Zaid pun merasa ragu kemudian iapun dilapangkan Allah dadanya sebagaimana halnya Allah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar.

Kenapa Al-Qur’an tidak dibukukan dalam satu mushhaf

Disini kami bertanya : " Kenapa Al-Qur'an pada masa Nabi SAW tidak dibukukan dalam satu mushhaf ? jawabnya :

Pertama : Al-Qur'an tidak diturunkan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dan terpisah-pisah, tidaklah mungkin untuk membukukan sebelum keseluruhan selesai.

Kedua : Sebagian ayat yang dimansukh, bila turun ayat yang menyatakan nasakh, maka bagaimana mungkin bis dibukukan dalam satu waktu.

Ketiga : Susunan ayat dan surat tidaklah berdasarkan urutan turunnya. Sebagian ayat ada yang turunnya pada saat terakhir wahyu tetapi urutannya diempatkan diawal surat, yang demikian tentunya menghendaki perubahan susunan tulisan.

Keempat : Masa turunnya wahyu terakir dengan wafatnya Rasulullah SAW adalah sangat dekat/ pendek. Sebagaimana terdahulu tetang Nuzul Al-Qur'an, ayat terakhir Al-Baqarah : 281, disebutkan :

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ ... َ

Kemudian Rasulullah berpulang ke Rahmatullah setelah sembilan hari dari turunnya ayat tersebut. Dengan demikian masa turun waktu yang sangat singkat yang tidak memungkinkan untuk menyusun atau membukukan sebelum sempurna turunnya wahyu.

Kelima : Tidak ada motivasi yang mendorong untuk mengumpulkan Al-Qur'an menjadi satu mushhaf sebagaimana yang timbul pada masa Abu Bakar. Orang-orang Islam pada saat itu dalam kondidi yang normal, ahli Al-qur'an begitu banyak, fitnah-fitnah banya diatasi. Berbeda

Jam'ul Qur'an Pada Masa Usman bin Affan

Jam'ul Qur'an mulai dikumpulkan, yaitu pada tahun 25 H. Pada periode ini, Islam mulai tersebar dan bertambah luas, dan para Qurrapun tersebar luas dipelbagai wilayah, dan penduduk di setiap wilayah itu mempelajari Qir'aat dari Qarri yang dikirim kepada mereka. Al-Qur'an yang dibacakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan dengan huruf ...192



[i] Hadits diriwayatkan Al-Hakim dalam Musytadrak dengan sanad yang memenuhi syarat bukhari dan muslim, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an , Ibid. h. 58

0 comments:

Comments

  © Islamic Ways Psi by Journey To Heaven 2008

Back to TOP